Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat (Bagian Sembilan)
Bagi yang ingin membaca cerita bersambung ini dari awal silahkan lihat di halaman Proyek WIDY
Agus lupa bagaimana
cara berdamai dengan kehilangan. Saat ini, ia memang sudah ikhlas dengan
kepergian ayahnya. Bahkan sudah dari SMA. Tapi, kini ia mengalami rasa
kehilangan yang baru. Kehilangan seseorang yang ia sayangi. Ini memang pertama
kalinya Agus merasakan jatuh cinta. Rasanya pasti berbeda jika disamakan dengan
kehilangan ayahnya beberapa tahun yang lalu.
Di saat keadaan
semakin kelam, Agus kemudian teringat pesan almarhum ayahnya beberapa hari
sebelum meninggal,
“Ketika Ayah udah
nggak ada, kamu nggak boleh terpuruk lama-lama. Segeralah bangkit. Kamu itu
anak cowok. Harus kuat. Jangan benci ibumu. Juga kakakmu. Apa yang ibumu bilang
itu sebenarnya baik. Tapi cara penyampaiannya mungkin salah. Dia cuma ingin
memotivasi kamu supaya berprestasi dan mandiri. Ayah yakin kamu bisa mandiri,
tapi memang butuh proses. Cara belajar kamu berbeda dengan Januar. Kamu itu
tidak bisa terburu-buru, sedangkan ibumu wataknya kurang sabaran. Kamu harus
bisa maklumi itu, ya.
Kamu juga nggak
perlu iri sama kecerdasan kakakmu. Setiap orang diciptakan Tuhan berbeda-beda.
Kamu nggak perlu jadi seperti kakakmu untuk mendapatkan kasih sayang dari ibu
atau orang lain. Karena kamu juga spesial, Nak. Jadilah dirimu sendiri.
Ayah sayang kamu,
Gus.”
Air mata Agus pun
mengalir semakin deras. Ia ingat sekali pesan itu lengkap dengan jenis suara Ayah yang terdengar parau dan melemah. Tapi, berkat pesan itulah ia sedikit-sedikit mulai belajar. Agus jadi
lebih mandiri sejak kepergian ayahnya. Ia mulai tidak acuh ketika ibunya mulai
memuji-muji Januar. Agus juga tidak perlu membuktikan apa-apa kepada ibunya. Ia
cukup bersyukur menjadi dirinya sendiri, meskipun kenyataannya ia memang tak
ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sang kakak. Agus masih percaya dengan kata-kata ayahnya,
menjadi diri sendiri itu menyenangkan. Dan di situlah letak keunikannya.
Lagi pula, Agus
hanya sebulan memandangi Mei dari kejauhan. Baru bertemu dua kali, dan tentunya belum mengenal
Mei lebih lama daripada Januar. Sedangkan
Januar sudah hampir setahun memiliki hati Mei. Agus kalah
terlampau jauh.
***
Setelah tidur,
semua ingatan menyedihkan itu mulai tertutup dan kembali tersimpan otomatis di
memorinya. Agus bangun tidur dengan lebih fresh.
Hati Agus juga sudah tak sesakit malam itu. Setelah melewati masa-masa sulit,
ia tampaknya mulai belajar mengikhlaskan Mei untuk Januar.
Hari ini,
perkuliahan sedang libur dan ia tidak ada kesibukan. Maka, siang itu, Agus
berencana untuk pergi ke toko buku. Saat sedang bosan di rumah, di sanalah
tempat yang membuatnya merasa tenang. Larut dalam imajinasi akan tokoh-tokoh
yang disajikan oleh jajaran novel fiksi di rak buku yang sering ia sambangi.
Sesampainya di
Gramedia, Agus langsung menuju ke arah rak favoritnya. Matanya yang cokelat itu
membulat begitu melihat banyak novel yang dipajang di rak itu. Dadanya pun
bergemuruh. Agus mengambil salah satu novel untuk dibaca. Ia mulai membaca
halaman demi halaman sambil berjalan. Sampai akhirnya, ia tak sengaja menabrak seorang
perempuan di
dekatnya.
“Duh, maaf-maaf,”
ucap Agus spontan.
“Gapapa, Mas,”
jawab perempuan itu.
“Ng... Mei?” ucap
Agus heran melihat penampilan perempuan
yang mirip Mei. Perempuan ini memang
benar-benar mirip. Dari mulai matanya, warna kulitnya, dan juga jenis
kelaminnya (yaiyalah kampret). Hanya saja perempuan ini memiliki potongan rambut berbeda dan
suara yang lebih lembut.
“Mas siapa?” tanya perempuan itu.
Padahal Agus serasa
mimpi kalau dirinya dapat bertemu Mei di Gramedia. Namun, aneh sekali karena
Mei kali ini sangat berbeda. Apalagi mendengar responsnya yang seperti itu.
Apakah itu bukan Mei? Kalaupun bukan, apakah Mei punya kembaran? Apa mungkin di
dunia ini ada seseorang yang benar-benar mirip dengan Mei?
“Gue Agus. Kita
pernah ketemu di kafe deket kampus. Ngobrol banyak hal sambil nunggu macet
waktu itu,” terang Agus.
“Hmm.... Kok saya
nggak ingat apa-apa, ya?" jawab perempuan itu.
“Tapi kita, kan,
sempet ketemu lagi waktu itu di....”Agus ingin mengingatkan perempuan ini tentang
pertemuan selanjutnya saat makan malam bersama keluarganya. Namun, ia sendiri
ingin sekali menghapus momen itu dari ingatannya. Agus kemudian termenung.
Wajahnya mendadak murung.
"Di
mana?" tanya perempuan itu.
“Lu bener bukan
Mei? Lu mirip temen gue soalnya.”
“Bukan. Saya Septi, Mas.”
“Oh, maaf kalo
gitu. Gue salah orang,” jawab Agus pasrah, kemudian ia berjalan menjauhi perempuan yang tidak
mengenali dirinya ini. Mungkin ingatan tentang Mei di pikiran Agus masih benar-benar
melekat. Sehingga saat ia melihat
perempuan yang rada
mirip, ia pun berpikir kalau
perempuan itu adalah
’Mei’.
***
Agus sedang membaca
novel yang baru saja ia beli siang tadi, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Agus mendapat sebuah notif di layar ponselnya.
Sebuah permintaan pertemanan BBM dari seorang perempuan. Yang ternyata adalah
Mei. Padahal Agus sudah mulai mencoba untuk mengikhlaskannya, tapi dia malah
hadir kembali.
Ada
perlu apaan dia invite gue, ya? Bukannya waktu itu dia nggak mau ngasih pinnya?
Apa dia mulai kehilangan gue? Atau dia baru menyadari bahwa gue lebih ganteng
daripada Januar?
Tanpa berpikir macam-macam dan untuk menghindari agar ia tidak terlalu
kegeeran, Agus segera menerima permintaan pertemanan dari Mei. Setelah berteman di BBM, Agus ingin sekali mengontak Mei. Ia tidak
bisa menyembunyikan perasaan rindunya. Paling tidak, ia mungkin bisa bertanya basa-basi
“Kok tau pin gue? Ada apa, ya?”, namun, ia malah bimbang dengan keadaan ini.
'' BBM aja. ''
'' Jangan! ''
'' BBM. ''
'' Jangan! ''
'' BBM! ''
Suara-suara di dalam kepalanya mulai berdebat.
'' Jangan! ''
'' BBM. ''
'' Jangan! ''
'' BBM! ''
Suara-suara di dalam kepalanya mulai berdebat.
Oke, BBM
aja deh.
Saat sudah mulai menggerakan jemarinya untuk
mengetik sesuatu, tiba-tiba... INGET! DIA
ITU PACAR KAKAK LU WOY! IKHLASIN. HARUS IKHLASIN. INGET PESAN AYAH.
Jemari Agus perlahan kaku
danmenjauh dari layar ponsel. Ia kembali mengurungkan
niatnya.
*tengtongteng*
Dan di saat kebimbangan Agus, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi di HP-nya.
“Gus?” sebuah chat masuk dari...
Mei.
Dan di saat kebimbangan Agus, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi di HP-nya.
“Gus?” sebuah chat masuk dari...
Mei.
Ingin rasanya Agus
bersorak girang. Bagaimana mungkin Mei mengirim chat untuknya?
Karena setahu Agus, bagi perempuan, mengontak laki-laki terlebih dahulu adalah ketidakmungkinan yang tak akan terjadi di dunia.
Seperti pada umumnya, biasanya kebanyakan perempuan gengsi untuk mengontak laki-laki terlebih dulu.
Dan betapa bahagianya ia saat mengetahui Mei terlebih dahulu mengontaknya dengan mengirim sebuah chat bbm. Agus buru-buru melupakan ketidakmungkinan bodoh itu.
Karena setahu Agus, bagi perempuan, mengontak laki-laki terlebih dahulu adalah ketidakmungkinan yang tak akan terjadi di dunia.
Seperti pada umumnya, biasanya kebanyakan perempuan gengsi untuk mengontak laki-laki terlebih dulu.
Dan betapa bahagianya ia saat mengetahui Mei terlebih dahulu mengontaknya dengan mengirim sebuah chat bbm. Agus buru-buru melupakan ketidakmungkinan bodoh itu.
Senyuman terlukis di bibir Agus. Hidungnya
kembang-kempis. Matanya berbinar-binar. Cukup lama Agus terdiam hening dengan
menatap chat yang tertera di layar
HP-nya. Seolah terhipnotis dengan chat
barusan. Agus mulai menggerakkan jemarinya, menyusun kata-kata yang hendak ia
layangkan kepada Mei sebagai chat
balasan.
“Ya? What's up?”
Agus tau kalau Mei
adalah penggila musik hip-hop. Ia berlagak seperti rapper dengan sok asyiknya, berharap Mei tertawa dan mengejeknya.
Lalu, berharap kalau mereka bisa chatting
tanpa ingat waktu.
“Cuma mau nanya,
apa Januar sudah pulang kerja, Gus? Chat gue dari tadi sore belum di-read."
Bangkeh.
Hal ini lebih
mengejutkan dari seorang perempuan yang tidak gengsi mengontak duluan. Ya, mengontak hanya karena ada
maunya.
46 comments
Udah gus delcon aja
ReplyDeleteKamu harus ikhlas gus
Ngmong2 si agus beli novel apa ya? Berapa harganya neng? Dia beli di gramed mana?
Harga novelnya mahal bang.
DeleteLebih mahal dari harga diri gue.
krai :(
Wooooo udahh ada part 9.
ReplyDeleteMasukan nih ya, seharusnya pas dibagian
BBM aja?
Jangan?
BBM?
Jangan?
BBM?
Ganti tanda seru, atau titik aja. Agak aneh kalo tanda tanya, kan gue jadi pengen jawab kalo gini.
Tapiii endingnya Kampret. Jahat banget ini Mei. Player. Gak ketebak endingnya, baguuuuus. Nendang. Kompooor gaaas
Terima kasih Bang Uben masukannya. :D
DeleteHeheee iya bang. Masukannya sudah diterima dan sudah diedit :D
DeleteSering-sering kasih masukan ya bang. Jangan masukin. EH APA TADI.
Yaduuuh, sakiiit banget jadi Agus. Kalo gue jadi Agus nggak bakal gue bales tuh. Read aja daaah.
ReplyDeleteApa jangan-jangan cewek begitu ya, mau nge-chat kalo ada maunya doang? Semoga nggak semuanya.
Ada lagi yang namanya Septi. OKTO KAPAN, NIH, MUNCULNYA?! DARI KEMARIN UDAH STRETCHING. Eh. Maap-maap. Kayaknya Septi bakal jadi wanita masa depannya Agus. Hmmm, kurang ajar gue malah nebak-nebak.
Kok ngakak baca komennya robby ya
DeleteBhahahaaa rata-rata cewe kayak gitu sih, By :D
DeleteHahahahahaa stretcing segala lu, By. YAWLAAA
Sama, By. Gue juga masih nebak-nebak. Wkwkwkw
Masih belum tau gimana endingnya.
iih udah part 9.
ReplyDeleteitu tepatnya almarhum bukan almarhumah.
yahh gus tabahkan hatimulah gus. kirain endingnya tuh terus chatingan gitu.
Iya bang. :D
DeleteHeheee iya bang. Makasih koreksinya. Sudah diedit :))
Nantikan part selanjutnya bang :D
yaaaah gak jadi kenalan sama septi, aguuuus2 itu septi lebih lembut.. kenapa di tinggal aguuuus2
ReplyDeleteBhahahaaa iya kan. Agusnya masih kepikiran Mei.
DeleteUdah gus delcont aja dah, kalo mau lebih ikhlas bagi aja pin bbm nya mei ke kita kita X)
ReplyDeleteBhahahaaaaa ini nih komen para jomblo. Malah minta pin bbm Mei :"D
Deletemau ke gramedia ah, siapa tau ketemu agus. pengen bisikin ' Sian amat iduplu toong tong.'
ReplyDeletesi agus ini pasti lagi sering-seringnya denger lagu nya al ghazali nih.
Mau bilang sayang tapi pacar kakakkk..
Bilang tidak ya?
Bilang tidak ya?
Bilang tidak ya?
Bilang tidak ya?
Hahahahahaaa buru ke gramed, Dib. HAHAHAAA
DeleteLAH KENAPA GUE BACANYA SAMBIL NYANYI :(
Uda dichat, yang ditanyain orang lain wokwok
ReplyDeleteDalam ati agus, kubur aja gue hidup hidup mei, kubur wkwk
Wah septi tokoh baru nih, apa krmbaran atau sekedar mirip kita tunggu saja ke te ka peh....punyanya icha
Hhahahaaa sedih amat dalam hatinya Agus ya mba :'D
DeleteWidihh mba Nita tau aja sambungan berikutnya ada di blog Icha :D
Tunggu lanjutannya ya mba :))
tiap kali bbm cm di R aja ?? kalau aku jadi si Agus, aku DC dah
ReplyDeleteBel sekolah.
DeleteIni bawaannya pengen mencet-mencet aja deh
Aku pengen grepe-grepe, Laaaaaaaaan. Grepe bel sekolah :D
DeleteAyo kita barengan, Chaaa =D
DeleteNama Septi diambil dari nama bulan kelahiran kamu bukan, Lan? Yuhuuuuu. Itu kalau nama Agus jadi Maretio, tambah cucok. Fix mereka berjodoh. Hohohoho.
ReplyDeleteHAHAHAHAAAAA
DeleteKenapa harus Maret, Chaaa :'D yawlaaaa
"INGET! DIA ITU PACAR KAKAK LU WOY! IKHLASIN. HARUS IKHLASIN. INGET PESAN AYAH."
ReplyDeleteKenapa mesti diingetin sih wooy!!
Biarin aja di ngechat dulu Щ(ºДºщ)
Hahahaaa suara hatinya Agus ngingetin dia :D
Deletekasian banget ya si agus, padahal balesnya singkat aja tuh "y" contohnya kan jaim dulu dong, ya memang harusnya jangan pernah jatuh pada pilihan yang sama dengan seorang kakak ya mba, cewe kan masih banyak loh, mungkin masalahnya ada yang mau gak hahahahaha
ReplyDeletesory ga baca dari season 1 :D
Hahahaaa sedih mas dibales dengan sebiji kata.
DeleteIya itu masalahnya. Ada yang mau nggak. Hahahaa :D
Iya nggak papa mas. Kalo mau baca semua seasonnya, silahkan baca di laman yaa :))
sory banget nih mba, saya soalnya masuk kategori pendengar setia lho. jadi mba baca ya dari awal saya dengerin aja.wkwkwk
Deletesi agus pasti lahirnya bulan agustus...
ReplyDeletesi mei pasti lahirnya bulan mei...
#INFOGAKPENTINGYANGSEMUAMAKHLUKHIUPDIBUMIINIPASTIUDAHTAU
Agus lahir bulan januari dan mei lahir bulan desember, gilang -__-
DeleteHahahaaaa semuanya salah. Agus di bulan Oktober. Mei di bulan Juni.
DeleteYHAAA~
Kecut amat deh dapet bbm hanya karena ada maunya dong lalu sedih :(
ReplyDeleteProject widy makin asoy dan makin panjang aja sekarang xD
Iya Wid. Mei cuma nanya Januar doang ke Agus. :'D
DeleteWaaa terimakasih yaa. :))
Si agus ini cerita hidupnya menyedihkan.. ckckk
ReplyDeleteCewek BBM duluan kalo ada maunya... Hahaha.. ngakak nangis.. ckckk
DC ajaa... bikin sakit hati.. Hahaha
Iya, Rum. Malang bener ya si Agus.
DeleteHahahaaahaa
hahaha, jleb banget ya si agus. udah lah ribut aja sama januar, fight like a man. tapi si mei juga sadis, nggak kasihan apa sama agus chat begitu. shock banget tuh pasti. hmm, tadi gue sempet ragu mau komen.. gue kira gue udah komen. gue kira ini postingannya icha, tadi gu emain ke blognya juga ada cerita widy dengan gambar yang sama. hahaha :")
ReplyDeleteBhahhaa fight like a man. Leh uga, Jev.
DeleteOohahahaa iya Icha udah posting cerpen WIDY juga yang bagian ke sepuluh. wkwkwkw
Hemmm Kacian agusnya ya....Masak gitu ya cewek sebenarnya hehehe
ReplyDeleteIyaa malang banget nasibnya Agus. :'D
DeleteMei Bangke banget ya lan.. :D
ReplyDeleteOW, ya lan. Pange mau minta maaf ni. Baru bisa mampir di sini. Ya, dirimu mungkin sudah tau apa yang terjadi. Lebih jelasnya baca di blog aja, ya. :) *Mendadak promo
Cerbung ini berlanjut dan berlanjut. Wah-wah.. Mau sampe kapan bersambungnya ini lan? Apakah Grup WIDY sudah menyiapkan ribuan Episod untuk mengalahkan Tukang Haji Naik Bubur. Eh, Tukang Bubur Naik Haji?. Semoga enggak.
Tapi entah kenapa dari beberapa cerita tentang Cerbung ini, selalu saja Agus berakhir Apes. Gak kasihan apa? Sesekali Happy Ending kek, lan.. Biar seru. :) Kasihan agusnya..
hahha, pas ujungnya itu lo sakit banget , pengen nangis rasanya kalau kejadian kayak gitu :D
ReplyDeleteKok kalau ada di posisi Agus... Sakit juga ya :'. Banget malah sakitnya :'
ReplyDeleteYa Allah, gua telat baca, maaf :(
ReplyDeleteLan, gua suka deh pemaparan kalimatnya, runut, jadi ngalir lancar aja pas dibaca. Pas bagian pesan Ayahnya si Agus, gua termenung lama di situ.
"Kamu nggak perlu jadi seperti kakakmu untuk mendapatkan kasih sayang dari ibu atau orang lain. Karena kamu juga spesial, Nak. Jadilah dirimu sendiri" --> ini terasa personal banget bagi gua haha. Nice statement.
Bagus lah si Agus mau jadi diri sendiri :D karena kalo mati-matian berusaha nyamain ama orang lain karena sering dibanding-bandingin itu ngga ada gunanya. Emang udah oke kalo jadi diri sendiri, dengan semangat juang kita sendiri *hasek*
Haha, mikir Mei sampe segitunya si Agus, ada orang mirip Mei di Gramedia sampe dikirain beneran si Mei. Wah, si Septi ini bisa jadi tokoh berikutnya untuk ngeramein suasana, makin drama :p
Itu chat si Mei di BBM bikin nyesek banget haha, udah seneng-seneng dia chat duluan, ternyata ujung-ujungnya si Januar lagi :p
Itu gue yang ngetik. Wakakak. Nggak nyangka ada yang suka. Makasih ya, Bay. Lu keren udah baca cerpen ini! :))
Deletewaduh udah chapter 9 aja nih padahal aku baru baca he he harus baca dari awal ini
ReplyDeleteKomentarnya ditunggu kakak~