• HOME
  • ABOUT ME
  • CONTACT
  • WIRDY'S PROJECT

Rahayu Wulandari Ibrahimelya

Daripada tawuran, mending kita curhat-curhatan


Hari Kamis tanggal 26 Mei kemarin adalah hari bersejarah bagi keluarga gue. Terutama bagi adik gue, Adam. Di hari itu, ia harus merelakan ujung  tititnya dipotong oleh dokter.








Iya. Hari itu, Adam disunat.



Sore sekitar pukul empat saat gue berada di kantor, hp gue berdering. Nama Ibu tertera di layar hp gue. Gue pun langsung mengangkat panggilan itu.

 ‘’ Adam disunat jam lima, Lan. ‘’

‘’….’’

‘’ Rencananya kan tadi pagi Adam disunat, tapi pak mantrinya bilang sore aja, soalnya pagi tadi pak mantrinya nggak bisa. ‘’

‘’….’’

‘’ Koe mau liat, Lan? ‘’

Gue hening dengan waktu yang cukup lama.

Ya Allah, ini mau liat kangen band atau mau liat Adam disunat sih? Pake ditawarin mau liat-mau liat segala. Yaa gue MAU LAH.
Kapan lagi coba gue bisa menyaksikan adegan terkejam sepanjang sejarah hidup gue. 

 ‘’ Yaudah iya, Bu. Jam lima kan? ‘’

‘’ Iya, Lan. Bawa kamera hp ya. Nanti kita video.‘’

Tuh kan bener. Kayaknya Ibu nyuruh gue videoin kangen band pas nyanyi Yolanda nih. Pasti.

Sepulang kerja, gue langsung meluncur menuju alamat rumah sakit yang Ibu beritahu sebelumnya. Tepat ketika gue memarkirkan motor di sana, gue melihat seorang anak turun dari mobil dengan tampang kusutnya. Alisnya mengkerut. Mungkin dia lupa untuk menggunakan yang anti kerut, anti bocor, charm body fit.
Anak lelaki itu celingukan menoleh ke kanan dan ke kiri. Kayak mau nyebrang. Padahal posisinya sedang berdiri di parkiran rumah sakit yang terlihat sepi. Gue melepas helm lalu menghampirinya.

‘’ ADAM!! ‘’

Adam menoleh ke arah gue, sang kakak yang memiliki budi pekerti luhur. Adam mengernyitkan dahinya dan memasang muka jijik saat gue menghampirinya. Gue biasa aja sih. Udah sering digituin soalnya. Lebih tepatnya gue memang menjijikan.
Sambil menunggu dokternya datang, kami berlima duduk rapi di ruang tunggu. Gue yang ketika itu duduk di samping Adam mendapatkan sebuah pertanyaan dari bocah kecil itu.
‘’ Wam, nanti enggak sakit kan pas disunat? ‘’

 ‘’ Ya enggaklah. HAHAAA. Nggak bakal sakit. Adam tenang aja ya. ‘’

‘’ Sakitnya sedikit kan, Wam? ‘’

‘’ Iya. Dikiiiiiiiiiiitt banget… ‘’

Adam senyum-senyum sambil menggoyangkan kakinya yang menggantung di bangku. Tepat jam setengah enam lewat beberapa menit, Adam dipanggil masuk ke dalam ruangan. Sayang seribu sayang, kalo nggak sayang ya nggak usah bilang sayang, yang diperbolehkan masuk oleh si perawat hanya Ibu, Ayah dan Adam, si pasien. Sementara gue dan Nova harus menunggu di ruang tunggu dengan penuh kecemasan dan rasa khawatir.
Cemas kalo nanti tititnya jadi rata. Kan kasian. Masa depannya terancam punah.



Satu menit…




Dua menit….




Tiga menit…...




Empat menit..…..





HUUUUUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA. HUWAAAAAAAAAAAAAA



Gue dan Nova saling berpandangan dan tanpa dikomando, tawa kami pecah begitu saja. Kakak macam apa kami berdua. Tertawa diatas penderitaan titit yang terpotong.
Gue dan Nova kemudian diam dan kembali mendengarkan suara jeritan dari ruangan yang ada di sebelah kami.

‘’ Jangan suntik lagi dokter. HUWAAAAAAAAA ‘’

Gue dan Nova kembali tertawa. Asli. Hari itu gue bener-bener sakit perut karena kebanyakan tertawa. Gue masih nggak nyangka, Adam yang selama ini sok jagoan di rumah karena merasa anak laki-laki satu-satunya ternyata bisa nangis saat disunat.


‘’ DOKTEERR JANGAN PEGANG JARUM DOKTEEEERRR HUWAAAAAAA ‘’

Untung aja Dokternya nggak jawab, ‘’ Trus saya harus pegang apa dong? ‘’
Yang kemudian dijawab kembali oleh Adam, ‘’ Berpeganglah pada keimanan dan ketaqwaan, Dokter. ‘’


MASYAALLAH.


Trus Adam nggak jadi sunat. Dokternya langsung umroh.



Proses sunat kembali dilanjutkan dengan khidmat. Sampai akhirnya…

‘’ DOKTEERRR BENANGNYA PANJANG-PANJANG DOKTEEERRR.. ‘’

Sumpah. Gue kalo jadi dokternya, rasanya gue pengen berbisik ke telinga Adam, ‘’ Nak, ini saya mau nyunat. Bukan mau bikin layangan. ‘’

Setelah setengah jam berlalu dan proses pemotongan titit Adam selesai, pintu ruangan perlahan terbuka. Adam berjalan keluar dengan dibimbing Ibu dan Ayah dikedua sisinya. Lagi dan lagi gue ngakak nggak karuan. Sarung dengan warna pink menjulur indah membalut tubuh Adam dengan ujung sarung yang diikatkan pada lehernya.


Sarungnya kenapa mesti warna pink sih? Elaah.


Gaes, ini jelas-jelas telah menjatuhkan kejantanan seorang Adam yang ketika itu baru saja selesai sunat. Cuma lelaki sejatilah yang berani disunat, tapi kenapa kain sarungnya mesti warna pink. Ya Allah.
Ketika Adam telah masuk ke mobil dengan digendong Ibu, gue hanya melambai-lambai penuh bahagia ke arahnya. Setelah mobil menghilang di belokan, gue tidak langsung pulang ke rumah. Tujuan gue adalah mengabulkan permintaan Adam yang sudah lama ia minta dengan ucapan ‘kalo Adam disunat…’, dan hari ini gue harus mengabulkan permintaannya.
Adam minta dibelikan psp.

Ini permintaannya nggak asik banget. Kalo disunat, minta dibelikan psp. Gue kalo jadi Adam, trus disunat, gue bakal minta nama gue tercantum di surat tanah dan kepemilikan rumah ini. Ntaps!

Dasar anak nggak tau diri!

Sesampainya di rumah, gue langsung memberikan psp kepada Adam. Dan gaes, mata gue melihat banyak sekali makanan yang berada tepat di dekat kepala Adam. Di sana tergeletak makanan seperti, roti, susu beberapa kotak, energen satu renteng, cokelat, dan berbagai jenis cemilan lainnya yang banyak banget anjir.

Ini emak gue mau buka lapak jualan atau mau ngadain sahur on the road sih?

Terlepas dari memperhatikan berbagai cemilan yang menggoda nafsu itu, gue beralih untuk melihat ada apa dibalik sarung pink milik Adam. Ini kalo gue jadiin film, pasti judulnya AADSPMA. Film AADC 2 mah lewat.
Setelah Adam menyibak sarung pink imutnya, kali ini gue melihat sesuatu yang tak kalah imut. Iya, titit Adam dengan keadaan diperban terpampang indah penuh pesona.
Satu hal yang terbesit di pikiran gue,

‘’ Kok jadi kecil? ‘’

Perbannya.

Hari itu, untuk yang pertama kalinya gue melihat kondisi titit setelah disunat. Pengetahuan gue bertambah satu. Pengetahuan tentang titit.


***

Hari-hari berikutnya, rumah gue mulai berdatangan para tetangga, teman Ayah dan teman Ibu.
Untuk apa mereka datang? Yak benar.
 Untuk melihat titit Adam. Kalo kalian mengira Adam akan seperti anak-anak lain sehabis sunat pada umumnya yang menggunakan sarung, perkiraan itu tidak akan kalian temukan pada Adam. Dari hari pertama di rumah setelah sunat sampai gue mengetik tulisan ini, Adam tidak pernah menggunakan sarung untuk menutup titittnya.

Dan jelas sekali, saat orang-orang berdatangan untuk menjenguk Adam yang habis sunat, Adam dengan rasa bahagianya akan menyambut para tamu dengan keadaan terbaring di kasur dan titit yang terpampang penuh kharisma.
Setiap hari ada saja temen Ayah ataupun Ibu yang sengaja berkunjung ke rumah demi menonton titit Adam. Sebagai mahasiswi ekonomi, gue melihat ini sebagai peluang bisnis. Gue punya rencana, nanti gue bakal bikin spanduk dan brosur serta tiket masuk untuk menonton titit Adam. Satu tiket dijual dengan harga 25K. Sedangkan untuk kursi VIP dengan harga 85K sudah termasuk makan siang, tanda tangan dan foto dengan pemilik titit. Yang minat PING!

Percayalah, gue melakukan ini semua demi mengembalikan uang gue yang sudah melayang untuk membelikan psp kepada Adam.


Bukan, bukan gue nggak ikhlas. Masalahnya adalah, KENAPA ADAM SUNAT DI AKHIR BULAN SIHH ELAAAH

Gue akhir bulan aja udah setengah mati mikirin duit yang semakin tipis. Gue ngeluarin duit seribu untuk bayar parkir aja harus diiringi derai air mata dulu karena mengingat uang seribu itu sangat berarti di akhir bulan bagi gue. Lah ini Adam malah sunat di akhir bulan.

Ya Allah.

Tapi ndak papa. Aku ikhlas. Ini semua demi titit Adam. Demi masa depan nan gemilang Adam. Demi anak cucunya nanti. Aku ikhlas.


***

Saat beberapa teman Ayah dan Ibu datang menjenguk Adam ke rumah, temen Ibu berkata, ‘’ Laki-laki sama perempuan adil ya, Bu. Laki-laki sakitnya di waktu sunat, sementara perempuan sakitnya di waktu melahirkan. ‘’

Spontan gue menjawab, ‘’ Tapi perempuan kan melahirkan berkali-kali. Nggak ada laki-laki yang sunatnya berkali-kali. ‘’

Teman Ibu langsung diam dan manggut-manggut. Dalam hatinya, ‘’ Bgst juga nih anak! ‘’


***
Dan setiap kali ada tamu yang datang ke rumah, Adam selalu mendapatkan selipan uang di tangannya dengan ucapan yang rata-rata sama, ‘’ Nih buat Adam, untuk beli permen. ‘’ atau ‘’ Nih buat Adam, untuk beli jajan. ‘’


((BELI PERMEN))
Ya lu pikir aje beli permen sebanyak itu. Ntar tititnya sembuh, giginya yang mendadak sakit.

Hampir setiap malam Adam mendapatkan selipan uang ditangannya dari temen-temen Ibu juga Ayah. Bener-bener mendadak jadi kaya nih bocah. Gue nggak bisa bayangin kalo minggu depan tau-tau Adam udah bangun kos-kosan di belakang rumah.

Asli. Enak bener idupnya.
Yang gue takutkan, dengan uang yang banyak, Adam bakal jadi rentenir. Trus malak-malakin orang ke rumah-rumah. Nagih utang. Penampilannya kece. Necis abis. Pake jas, pake dasi, kacamata item, tapi belom bisa pake celana. Soalnya tititnya belum kering. Kan habis disunat.
Tapi…


RENTENIR MACAM APA ITU!

Oke. Lupakan.


Setelah menemani Adam sunat dan melihat ‘after dan before’nya, gue bisa mengambil kesimpulan dari hal itu.


Kesimpulannya adalah :

‘’ MAU KAYA? AYO SUNAT! ‘’


‘’ SUNAT PANGKAL KAYA ‘’







Share
Tweet
Pin
Share
47 comments
Sudah seminggu gue sakit. Dimulai dari Rabu minggu lalu, gue mendadak demam, batuk dan flu. Itu semua menyebabkan gue harus beristirahat penuh satu harian di rumah dan meninggalkan pekerjaan kantor selama satu hari.

 

Keesokan harinya di hari Kamis, karena gue ngerasa sudah cukup enakan, gue memilih untuk kembali masuk kantor. Cuma pusing-pusing dikit, ya wajarlah. Kan belum sembuh total. Hari berikutnya gue mulai ngerasa kalau badan gue semakin nggak enak. Mata gue anget, nafas gue anget juga kepala gue terasa pusing.

Awalnya gue mau ngadu ke Ayah kalo gue sakit. Tapi gue udah yakin kalo Ayah pasti bakal menjawab aduan tentang sakit apapun dengan ucapan, ‘’ Kurang minum itu. Harus banyakin minum. ‘’ Simpel.

Gue kalo pusing, trus ngadu ke Ayah, pasti dibilang penyebabnya karena kurang minum.
Gue kalo sakit perut, trus ngadu ke Ayah, pasti dibilang penyebabnya karena kurang minum.
Gue kalo keseleo, trus ngadu ke Ayah, pasti dibilang penyebabnya karena kurang minum.


INI LAMA-LAMA KALO GUE PANUAN, TRUS NGADU KE AYAH, PASTI DIBILANG PENYEBABNYA KARENA KURANG MINUM JUGA!


Sepulang kerja, gue langsung mandi dan goleran di atas tempat tidur. 


Dan di sinilah hal buruk itu terjadi.

Seusai magriban, gue ngerasa badan gue semakin anget. Kepala gue terasa nyut-nyutan. Ibu yang saat itu akan pergi keluar bersama Ayah tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan melihat anaknya yang cantik jelita ini terbaring lemah tak berdaya.

  ‘’ Koe udah makan, Lan? ‘’

Gue cuma mengangguk. Biasa, kan lagi sakit. Jadi bawaanya lemes gitu. Mau ngomong aja susah. Apalagi ngomong sambil kayang. Lagian siapa juga yang mau ngomong sambil kayang.

  ‘’ Itu obatnya diminum di sana. Ibu mau pergi dulu.‘’

Setelah Ibu dan Ayah pergi keluar, tidak ada yang bisa gue lakukan selain tiduran, selimutan dan stalking mantan. Lah kagak. Mantan mah ngapain diurusin. Biarkan saja dibahagia dengan yang lain. Hasoy dah. Mengingat lusa gue ada jadwal kuliah, gue langsung bangkit dari tempat tidur. Gue nggak boleh membiarkan penyakit ini lama-lama bersarang di badan gue. Dengan langkah pelan, gue berjalan menuju kotak obat dan memilih obat sesuai gejala sakit yang gue rasakan. 


Flu dan demam.

Dengan penuh percaya diri, gue mengambil obat Molexflu untuk meringankan flu, dan obat Paracetamol untuk meringankan demam gue. Di sini gue ngerasa udah kayak dokter yang dengan cepat bisa tau segala resep obat yang harus diminum sesuai dengan sakit yang dialami. Gilaa ya. Gue keren banget. Fix lah, gue jadi dokter aja. Cita-cita gue jadi dokter. Titik.

Gue meminum kedua obat tersebut dan langsung balik ke kamar untuk kembali goleran. Tidak berapa lama setelah gue kembali ke kamar, Ibu dan Ayah tampak sudah pulang ke rumah. Ibu tiba-tiba saja masuk ke kamar gue untuk melihat bagaimana kondisi anaknya tercinta ini.

  ‘’ Udah diminum obatnya, Lan? ‘’

  ‘’ Iya udah, Bu. ‘’

  ‘’ Obatnya apa yg koe minum? ‘’

  ‘’ Obat Molexflu dan Paracetamol. ‘’

  ‘’ GILA KOE YAAA ‘’



Gais, gue salah apa coba? Gue sakit, udah minum obat, malah dimarahin Ibu, dikatain gila.



  ‘’ Hah? Kenapa, Bu? ‘’ Ibu terlihat panik sambil terus mengomeli gue. Asli, gue sama sekali nggak ngerti apa-apa.

   ‘’ Itu molexflu dosisnya sudah tinggi. Dalam molexflu itu udah ada terkandung paracetamol 500 mg. Ditambah koe minum paracetamol lagi 500 mg. Haduuuuh sembarangan aja minum obat. ‘’ Ibu masih saja mengomeli gue karena sudah ceroboh meminum obat.
Detik itu juga, harapan serta cita-cita gue untuk jadi seorang dokter musnah seketika. Gue dodol. Banget. Aseli dah.

  ‘’ Ya mau gimana lagi dong. Udah terlanjur diminum, ‘’ ujar gue karena tidak tau harus berbuat apa lagi selain pasrah. 

Ibu keluar dari kamar gue dengan tetep mengomel panik. Malam itu, Ibu bener-bener rempong. Bagaimana kalo gue over dosis?
Dengan kondisi badan yang bener-bener lemas, gue berjalan menuju kotak obat. Gue membaca kandungan obat Molexflu dan Paracetamol yang gue minum tadi. Dan benar sekali apa yang Ibu bilang.  Itu artinya, gue sudah mengonsumsi Paracetamol sebanyak 1000 mg. Ntaps
Setelah balik ke kamar , gue ngerasa semakin lemas. Nggak bisa ngapa-ngapain. Dalam hati gue juga takut kalo akan terjadi sesuatu hal pada diri gue sendiri.

Beberapa menit kemudian, gue merasakan ada sesuatu yang aneh. Jantung gue berdegup kencang. Gue mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar. Tidak ada siapapun. Setahu gue, jantung gue akan berdegup kencang jika melihat ada abang-abang ganteng di dekat gue. Namun, malam itu tidak ada seorang pun di kamar gue. Abang ganteng apalagi.

Jantung gue berdegup makin kencang. Nafas gue sesak. Padahal beha gue nggak kekecilan.

Gue hanya bisa diam dan merasakan kencangnya degup jantung di dada gue. Gue meletakkan tangan di atas dada. Degupan itu terasa lebih jelas.
Gue menarik nafas dalam sebelum pada akhirnya gue merasa ada sesuatu yang sesak dan berat di dada gue.

Gue mengganti posisi tidur dari yang semula miring ke kanan menjadi posisi telentang.


Jantung gue semakin berdegup kencang.



Gue mulai keringat dingin.


Degupannya semakin kencang.



Kencang.


Dan akhirnya gue terlelap tidur.



Hingga pada tengah malam gue terbangun karena merasa cukup lapar. Gue membuka kulkas dan menemukan sebuah roti tawar didalamnya.
Malam itu, gue memakan roti tawar sambil bergumam dalam hati, ‘’ Tidur gue lelap banget tadi. Kayaknya ini karena efek over dosis tadi deh. ‘’


Jadi kesimpulannya… yaa gitu.

Dan sampai gue mengakhiri tulisan ini, gue masih aja flu. Gue udah flu selama 2 minggu.
Gilaaaa. Flu apa yang sampe 2 minggu :(



Betewe, gue ada tebakan nih. Flu, flu apa yang bikin nyaman. Hayooo?


BERADAAA DI FLU-KANMU. MENYADARKANKU. 
APA ARTINYA KENYAMANAN, KESEMPURNAAN. CINTAAAA~






Share
Tweet
Pin
Share
37 comments

                                 


Di hari Sabtu yang bahagia, langit tidak henti-hentinya menurunkan air hujan ke muka bumi. Kenapa gue bilang bahagia? Iya bahagia. Dengan cuaca dingin yang seperti ini, gue bakalan bisa tidur nyenyak dengan mudahnya. Gue bisa sembunyi dan bergumul dengan hangatnya sang selimut.
Namun, semua berubah saat kepala gue yang secara tiba-tiba memutar ingatan dengan chat Lisa. Chat yang berisi. ‘’ketemuan hari Sabtu jam tujuh ya. ‘’ itu mendadak membuat gue langsung menyambar hp.
Gue langsung saja menelfon Lisa, teman semasa SMK gue dulu.


  ‘’ Sa, lagi di mana? ‘’
  ‘’ Lagi di rumah. Kamu lg di mana, Lan? ‘’
  ‘’ Aku lagi di rumah, lagi ngeluarin motor. Tinggal ngegas aja nih. ‘’
  ‘’ Iya iya, Lan. Ke rumah Roza dulu ya. ‘’
  ‘’ Oke. ‘’


Selesai menyudahi obrolan via telfon itu, gue langsung manyambar handuk dan ngacir ke kamar mandi. Setelah gue rasa semuanya cukup, gue langsung izin ke Ayah Ibu, menutup pintu dan cuuuss langsung menuju rumah Roza.
Hari itu, Roza yang sedang berkuliah jauh akhirnya pulang ke rumahnya. Seperti biasa, kalo Roza pulang ke sini, gue dan Lisa pasti langsung membuat rencana untuk berkumpul bersama.

Sesampainya di rumah Roza, gue menemukan Roza masih dengan tampang lusuh dan baju rumahannya. Iyak, ini anak bener-bener nggak berubah ya dari dulu. Kalo janjian, pasti selalu nggak on time.
Nih ya, kalo kalian sering punya temen yang janjian jam 7 tapi datangnya jam 8 mah nggak papa. It’s okay. Wajar sih. 
Kalo Roza, beda. Janjian jam 7, mandinya jam 8.
Alhasil, saat jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam, kami berangkat menuju Café Diya. Sempat terjadi obrolan absurd antara gue dengan Roza. 


R (Roza)
G (Gue, perempuan yang mencintai dia dalam diam)

R: Kita kemana nih, Lan?
G: Kata Lisa, ke Café Diya.
R: Café dia? Lisa punya café?
G: Iya Café Diya.
R: Sejak kapan Lisa punya Café?
G: Nganuuu maksudnya Café Diya. D-I-Y-A

Ini gue salah ngomong ya? Teros coro mocone piye? ;(




Setelah gue mengeja satu persatu huruf dalam nama Café tersebut, tawa Roza  pecah seketika.

Sesampainya di Café Diya, kami berempat turun dari motor. Iya kami berangkat berempat bersama Sari, teman kami juga yang ternyata sedang off day setelah kerja nun jauh di sana.

Cafenya adem. Sunyi. Senyap. Hanya ada beberapa pasangan muda-mudi yang terlihat bercengkerama dengan mesranya. Gue lupa untuk mengatur hari untuk tidak keluar malam. Gue lupa kalo ini malam minggu. Oh no!
Satu hal yang pertama kali terlintas di benak pikiran gue. Sumpah, ini cafenya kenapa remang-remang banget anjir. Ini café atau tempat prostitusi? Gue sempat curiga dengan teman-teman gue. Apa jangan-jangan mereka sengaja membawa gue ke sini untuk menjual  gue?
Nggak salah nih mereka? Dada rata gini masak laku sih? Minta naikan harga dikit bisa keleus.



Lah sitai.




Sebelum pikiran aneh itu makin panjang, gue langsung menepis dugaan-dugaan itu. Gue percaya dengan mereka kok. Mereka anak baik-baik. Mereka perempuan baik yang sholehah. Gue masih ingat jelas waktu masih masa sekolah dulu, Lisa pernah mengajak gue dan Roza untuk ikut pengajian. Dalam pengajian ini, nantinya akan ada pembedahan al-quran. Seperti membahas ayat-ayat yang ada di dalam al quran. Gue langsung ngerasa jadi Zaskia Adya Mecca yang cantik jelita dan sholehah saat pertama kali ikut pengajian bersama Lisa dan Roza.

Pengajian yang diadakan sekali seminggu itu sukses membuat gue hadir dengan sekali pertemuan saja.

Setelah gue tidak lagi ikut pengajian itu, gue tetep ngerasa jadi Zaskia. Tapi kali ini Zaskia Gotik. ;(
Tapi gue hapal pancasila kok. Serius.


Beberapa minggu setelah gue tidak lagi ikut pengajian itu, Roza akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak sesat dan laknat gue. Roza berhenti dari pengajian itu. Sungguh, kami perempuan yang tidak sholehah.
Dan karena itu, gue belum berani beli susu Hilo Sholehah. Bukan, bukan karena gue tidak sholehah. Tapi karena harganya. Mahal banget kampret.



Karena belom sholehah juga sih.



Kalo gue boleh minta satu permintaan, bisa nggak pabrik susu Hilo nyiptain produk susu dengan nama produk, susu Hilo Pra-Sholehah.


Pasti gue beli deh itu. Bener.


*** 

Sesampainya di dalam Café Diya yang tentunya setelah gue melewati area para muda mudi ngedate, kami langsung berjalan untuk mencari meja yang kosong. Setelah melalui berbagai pertimbangan, gue dan Roza langsung saja memilih salah satu meja yang berada di tengah-tengah yang mengarah ke dinding. Sepertinya, gue tidak salah memilih tempat. Lah iya, wong tempat yang tersedia cuma tinggal satu meja doang.
Setelah memesan makanan dan minuman, kami berempat mulai membuka suara dan saling bercerita tentang apa yang dialami masing-masing selama akhir bulan ini. Hingga entah darimana awalnya tiba-tiba saja obrolan melenceng hingga membahas soal asmara.

  ‘’ Kamu masih sama Reksi, Sa? ‘’ tanya gue kepada Lisa. Lisa mengangguk dan mengembangkan senyumannya.

  ‘’ Wah langgeng ya, ‘’ ujar gue. Sayup-sayup lagu Pasto terdengar memenuhi segala penjuru Café Diya. Membuat pasangan muda-mudi semakin terbawa hanyut oleh keromantisan.

  Lisa yang sudah 3 tahun berpacaran dengan pacarnya itu sukses membuat gue bertanya-tanya dalam hati tentang apa rahasia langgengnya suatu hubungan. Obrolan kembali berlanjut saat Sari menceritakan bahwa ia sedang mengalami cinta lokasi dengan rekan kerjanya.

  ‘’ Kamu masih Za? ‘’ Kali ini Lisa yang bertanya kepada Roza mengenai status perempuan itu.

  ‘’ Masih single? Iya. Hehehe, ‘’ Roza cengengesan sambil sesekali mencolek kentang goreng ke dalam tumpukan saos. Gue masih heran sama Roza, itu anak masih aja betah ngejomblo. Iya sih dia jomblo, tapi gebetannya banyak. Seru.

  ‘’ Kalo kamu, Lan? Masih? ‘’

  ‘’ Masih sama yang kemaren? ‘’

Lisa mengangguk. Gue menghela nafas lalu menggelengkan kepala perlahan. Alis Lisa mengkerut, seolah menandakan bahwa itu adalah pertanyaan ‘mengapa’ yang ia tujukan kepada gue.

  ‘’ Nggak cocok lagi. ‘’ 

Lalu mengalirlah cerita tentang kandasnya hubungan gue yang sempat gue jalani selama tahun 2015 lalu. Tentang bagaimana gue yang mencoba selalu berpikir positif, sabar dan memilih untuk mempertahankan hubungan ketika itu. Hingga akhirnya gue lelah untuk berjuang sendirian dan memutuskan untuk berhenti. Beberapa hari setelah kami mengambil jalan masing-masing, ia datang kembali untuk meminta hati gue LAGI.
 
  ‘’ Dia minta balikan lagi? Kenapa nggak mau, Lan? Kasih kesempatan dong. Semua orang punya salah kok. Nggak ada salahnya maafin dia. ‘’

  ‘’ Sa, ini bukan masalah tentang salah ataupun menerima permintaan maaf dari seseorang, tapi ini lebih ke perasaan kecewa karena tidak dipedulikan. Hanya itu. Mengenai permintaan maafnya, jauh dari dulu aku sudah memaafkan kesalahan dia. ‘’

  ‘’ Tapi kan nggak ada salahnya untuk buka pintu hati lagi. Siapa tau dia nggak bakal ngulangin kesalahan itu kembali, ‘’ ujar Lisa. Gue kembali menggeleng. Kali ini lebih mantap.

  ‘’ Kesalahan itu udah terlalu sering, Sa. Kesalahan dia yang seperti apa lagi yang belum aku maafin? ‘’


Lisa manggut-manggut. Sementara Roza dan Sari hanya diam menyaksikan kami yang berbicara dengan pendapat yang berbeda. Gue tau, gue dan Lisa adalah sosok kepribadian yang bertolakbelakang. Lisa dengan sosok keibuannya, terlihat gampang menaruh iba dan mudah mengalah. Sementara gue, tidak akan pernah menggunakan strategi mengalah demi menjadi solusi dalam suatu masalah. Bukan berarti gue egois, gue tau kapan gue harus mengalah dan gue tau kapan gue harus bersikeras serta tetap pada pendirian gue sendiri.

Setiap kali ada masalah, Lisa selalu berkata, ‘’ Yaudah deh iya iya,’’ atau ‘’Iyain aja deh. Aku ngalah aja.’’

Dan gue sama sekali nggak bisa seperti itu. Kalo pasangan salah, kita koreksi. Bukan mengalah.


  ‘’ Hmm gitu ya, Lan. Yaudah sabar aja ya, semoga kamu dapat yang lebih baik ya. ‘’ Lisa mengelus pundak gue hangat.


Tanpa sengaja, pandangan gue menangkap sepasang muda-mudi yang duduknya tidak jauh dari meja gue. Gue tersenyum berusaha menahan tertawa. Tampak si cowo sedang sibuk mengotak-atik handphonenya, sementara si cewe sibuk mengaduk-ngaduk minumannya dengan sedotan di hadapannya. Muka cewenya kayak ketek. Asem. Cemberut mulu sih.

  ‘’ Betewe, besok kalo puasa kita buka bareng ya, ‘’ ujar gue penuh semangat.

  ‘’ YAELAAH PUASA JUGA BELOM, ‘’ sahut mereka hampir bersamaan. Krai efridei ;(


Saat asyik mengobrol, entah ini kebetulan atau tidak, lagu Pasto yang tadi terdengar jelas kini berganti menjadi lagu Christina Perri, Jar of Hearts.


So don't come back for me Who do you think you are?


Sampai gue meninggalkan area parkir, sayup-sayup lagu Jar of Hearts masih terdengar di telinga gue.

Dear, it took so long, just to feel alright
Remember how you put back the light in my eyes



Setelah keluar dari Café Diya, kami berempat memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Setelah bertemu dan berkumpul dengan mereka, teman-teman gue tercinta, gue bisa mengambil satu kesimpulan yang menurut gue itu adalah kesimpulan yang terbaik dan bisa gue jadikan pesan untuk gue sendiri. Kesimpulan itu adalah,

  ‘’ Jangan pernah lagi  keluar di malam minggu.Banyak yang pacaran. BAHAYA! ‘’







Trus tulisan ini manfaatnya apa sih nyet?
Ya gada sih. OKE.


Share
Tweet
Pin
Share
45 comments


You're the only one 
                                     



Tukang parkir.
Tukang parkir adalah makhluk ghaib yang tak kasat mata. Namun disaat pemilik motor hendak pergi meninggalkan area parkir, makhluk ghaib itu tiba-tiba memperlihatkan wujudnya dalam bentuk nyata. Emejing!

Pernah nggak sih kalian ngeliat ibu-ibu dengan tampang sangar, galak, rambutnya diikat satu acakan, ngalungin peluit minjem dari wasit Timnas, plus rompi ijo-ijo yang kalo keliatan dari jauh selalu bikin gue panik. Yaiyalah, gue kira itu polisi lagi ngerazia. Ternyata tukang parkir. Ahelah.

Ibu-ibu yang gue jelaskan di atas tadi adalah buibu tukang parkir.

Setelah gue teliti, ternyata buibu tukang parkir jauh lebih sangar daripada abang-abang tukang parkir. Gue pernah mengendarai motor saat pulang kerja. Dari jauh gue melihat buibu tukang parkir lagi memberi aba-aba kepada pengemudi mobil yang hendak meninggalkan area parkir di salah satu tempat makan. Gue menurunkan kecepatan motor. 


‘’TEROOOSS TEROOOSSS. KANAN BALASS. KANAAANN’’


Suaranya macho abis gengs. Buibu ini kayaknya layak untuk menggantikan Komo Ricky kalo Komo Ricky resign dari host katakan putus.

Semakin dekat jarak gue ke buibu tukang parkir, gue semakin memelankan laju motor. Dan di saat itu juga, buibu tukang parkir tampak kaget dengan kehadiran gue yang berada tak jauh di belakangnya.
Sore itu, dengan langit yang cukup cerah, gue dipelototi oleh buibu tukang parkir. :”)


Nggak hanya kejadian itu, kemarin sore sepulang kerja, gue tidak langsung pulang ke rumah. Sebelumnya, Ibu mengirim sms minta tolong ke gue untuk dibelikan bahan dapur. Sebagai anak yang menjunjung tinggi nilai pancasila, sepulang kerja gue langsung ke pasar untuk memenuhi permintaan Ibu. Setelah membeli bahan dapur yang seperti Ibu pesankan, gue langsung kembali menuju parkiran di area pasar.

Gue sudah lama tau, kalau tukang parkir di pasar ini adalah seorang buibu dengan postur badan gemuk.
Saat gue sampai di area parkir, buibu tukang parkir tersenyum dari kejauhan dengan posisi duduknya yang super-amat-santai. Santai banget.
Kayak lagi menikmati pemandangan indah di Maldives.

Gue menggeser motor sendiri dengan segenap tenaga penuh yang gue miliki. Pelan-pelan gue mengeluarkan motor dengan arah mundur. Berharap buibu tukang parkir ini bergegas menghampiri gue dan membantu gue untuk mengeluarkan motor.


Tapi paan. Si ibu sama sekali nggak bergerak dari posisi duduknya. Matanya memandang lurus ke arah lain.


Oke gapapa. Aku strong abiz.
Gue memutar kunci motor. Menyalakan motor.

Kembali, gue melempar pandangan pada buibu tukang parkir tadi. Lagi dan lagi, si ibu hanya tersenyum ke gue. 

Gue nggak ngerti apa makna dibalik senyum buibu itu. Ada sejuta makna dibalik senyum. Gue nggak ngerti dengan apa yang dimaksud si ibu tadi.
Motor menyala dan gue tetap duduk di atas motor. Sampai sekitar 10 detik, gue menoleh lagi ke belakang untuk melihat buibu tukang parkir yang kali aja sedang berjalan hendak menghampiri gue.

Syukurlah. Akhirnya buibu tukang parkir tetep duduk dengan antengnya. Tanpa babibu, gue turun dari motor dan langsung nyamperin si buibu tukang parkir.


  ‘’ Ini, Bu uangnya ‘’
  ‘’ Eh iya iya makasih ya ‘’


Karena penasaran dengan apa yang membuat buibu ini nggak mau beranjak dari duduknya, gue pun mencari tau penyebabnya. Dan di sana gue menemukan sebuah tv yang sedang menayangkan Uttaran.

Iya Uttaran. 


YA ALLAH, KENAPA HARUS UTTARAN ;(
YA ALLAH, KAPAN NENEK TAPASYA TOBAT ;(


Karena kejadian-kejadian seperti itu, gue lebih suka dengan tukang parkir yang lelaki.Yang nggak banyak tingkah.
Setiap sore gue ke ATM, gue selalu bertemu dengan seorang lelaki. Abang tukang parkir. Iya, hampir tiap sore hari kami ketemuan. Uwuwuw~
Karena pertemuan yang sering itu, cinta pun tumbuh di antara kami berdua. Kami saling mencintai.

Enggak deng.

Karena pertemuan yang sering itu, gue dan abang parkir jadi semakin sering ngobrol, saling sapa dan senyum. Sampai suatu hari, saat gue hendak mengeluarkan uang parkir dari saku baju, abang parkir mengeluarkan hpnya.


  ‘’ Abang boleh tau nggak nomor hp Wulan berapa? ‘’
  ‘’ Buat apa bang? ‘’


Setelah si abang parkir menjelaskan secara rinci tujuan dia meminta nomor hp gue, gue pun memberikan nomor hp gue kepadanya. Sejak saat itu, terhitung sekitar enam bulan yang lalu, setiap kali si abang parkir sms gue, gue nggak pernah membalas smsnya. HUAHAHAAA.
Sampai pada suatu hari.

  ‘’ Lan, sms abang masuk nggak di hp Wulan? ‘’
  ‘’ Iya masuk bang. Oh iya sorry, smsnya nggak Wulan bales. Wulan kalo udah di rumah jarang megang hp. Udah kecapekan pulang kerja. ‘’
  ‘’ Oh iya ya. ‘’
Setelah gue berkata seperti itu, si abang parkir tetep aja masih mengirimi gue dengan sms-smsnya yang penuh amanah itu.

Isi sms yang penuh amanah itu seperti ini:
‘ MeqOm Wulan. Ge paen? Jgn lpa mam yaCh. Nanti ckid. ‘
‘Wulan pha kbarnya? Sehat?’
‘Wulan dah mKan ciank lumz?’

Lumz
Lumz

KENAPA MUSTI PAKE HURUF Z SIH?? YAWLAA

Tapi walau bagaimanapun, gue tetep bahagia bila menemukan tukang parkir laki-laki. Mereka dengan senang hati selalu membantu gue untuk mengeluarkan motor. 

Pernah suatu hari, gue hendak pergi ke tempat jahit bersama Ibu. Sesampainya di parkiran, gue cukup kaget melihat area parkir yang penuh dan padat oleh motor-motor. Ibu sudah dari tadi turun dan meninggalkan anaknya nan cantik rupawan ini kebingungan mencari parkir. Di saat gue sedang kebingungan itu, seorang abang parkir menghampiri gue dengan peluit kuning punya anak pramuka yang mengalungi lehernya.

  ‘’ Di sini dek, biar abang masukin ‘’
Gue langsung mencopot helm dan turun dari motor. Hampir aja pengen gue jawab, ‘’ Iya bang, tapi pelan-pelan ya masukinnya. ‘’

Iya maksud gue pelan-pelan masukin motornya. Nanti lecet.

Nah, abang-abang parkir yang kayak gini nih yang pengen gue peluk dari belakang, trus gue bisikin ke telinganya, ‘’ You’re the only one ‘’






Share
Tweet
Pin
Share
67 comments

                                       


Akhir-akhir ini gue ngerasa kurang produktif untuk menulis. Gatau kenapa. Gue ngerasa ada yang kurang. Gue ngerasa kalo gue kurang bergairah, kurang makan, kurang uang jajan, kurang perhatian, kurang kasih sayang dan berbagai kekurangan lainnya.
Postingan yang gue tulis kemarin juga gue tulis dengan males-malesan. Huhuuu. Kenapa gue jadi males-malesan gini sih. Seperti biasa, gue kalo lagi males-malesan jadi sering ngelamun dan flashback, mengingat kejadian masa lalu. 

Gue anaknya pelupa parah. 

Andai kalian tau wahai sobat yang berbahagia, saat mandi sore, gue sering lupa kalau tadi pagi gue pake baju apa. Gue sering lupa kalo gue udah makan sejam yang lalu. Gue sering lupa naruh barang di mana.
Tapi, selupa-lupanya gue, gue masih ingat dengan kejadian beberapa tahun lalu atau kejadian yang udah lama berlalu.

Gue suka mengenang. Mengenang masa lalu saat gue punya pacar. Tapi semengenangnya gue, gue nggak pernah sampe stalk akun medsosnya mantan. Nggak akan pernah! Helooww iyuuuh banget.
Mentok-mentok gue cuma sms dia doang. Minta balikan.
Enggak deng.

Gue suka mengenang.
Apalagi mengenang saat saat bahagia dulu. Sampai akhirnya gue jadi mikir, ‘’ Ternyata gue dulu pernah bahagia ya. ‘’ Sebelum pada akhirnya gue langsung ngomong dalam hati, ‘’ Tapi percuma sih kalo ujung-ujungnya bakal dikecewakan. ‘’


YHAAA~


Dari kegiatan yang maha penting itu, gue jadi belajar banyak hal. Dengan mengenang masa lalu, gue jadi tau akan apa yang harus gue cari dan apa yang harus gue tinggalkan.
Seperti postingan kemarin yang terlahir dari kegiatan mengenang masa lalu gue, gue mendapat salah satu pelajaran.


Yaitu, jangan pernah mencari pasangan yang pelit.


Bayar parkir motor dua rebu doang pelit. Gimana besok mau bayar popok anak, susu anak, beras, cabe rawit, bawang, minyak goreng, bayar listrik, belum lagi kalo anaknya udah sekolah. Uang sekolah anak mahal broh.

Saat gue mengenang masa lalu dengan beberapa mantan, gue juga menyadari akan satu hal. Ternyata gue pernah bahagia dengan mantan gue yang sama sekali nggak pernah romantis.
Gue masih ingat dengan jawaban beberapa teman gue tentang kriteria cowok idaman mereka. Yang di mana salah satunya mereka akan menaruh kata ‘harus romantis’ di deretan kriteria cowok idaman yang mereka sebutkan.

Kenapa harus romantis? Ada apa dengan romantis? Apa romantis itu tolak ukur kebahagiaan?

Emang romantis itu kayak gimana sih? Apa harus ngasih bunga tiap ketemu atau dinner bareng pake lilin lilin gitu?


Gue dari dulu, nggak pernah meletakkan ‘harus romantis’ dalam kriteria cowok idaman.

Kriteria cowok idaman gue cuma dua.
1. Kalo pipis berdiri 
2. Nggak takut sama kecoa.

Udah, itu aja.

Gue mah anak simple. Nggak mesti dikasih bunga-bungaan. Gue ditraktir makan nasi goreng brebes aja udah seneng. Dibikinin mie rebus pake telor ceplok sama pacar aja, gue udah bahagia. Bahagia bangetlah. Bahagia dunia akhirat.

Waktu gue pacaran dengan pacar gue ketika itu, gue nggak seperti temen-temen lain yang setiap hari selalu dapat sms yang isinya, ‘’ Selamat pagi sayangku. ‘’
Setiap pagi, gue hanya dapat sms dengan isi satu pertanyaan, ‘’ Koe sekolah hari ini? ‘’

Iya waktu itu gue masih duduk di bangku SMK. Tadinya mau duduk di pangkuan Aliando, tapi nggak mungkin sih.

Waktu gue SMK, gue nggak kayak anak sekolahan jaman sekarang. Gue nggak pernah bikin video salam osis, salam pramuka atau salam-salaman lainnya. Satu-satunya video yang pernah gue rekam adalah video saat gue sedang joget dengan gerakan erotis. Kalian cari aja di yutub, pasti nggak ada.

Betewe, gue jadi bingung. Kenapa mereka yang sebagai anak sekolahan dengan baik hati mengunggah video mereka sendiri. Kan yang cowo cowo jadi keenakan.
Apa jangan-jangan anak osis dan anak pramuka pernah punya masalah?
Jadi ini semacam kontroversi antar anak organisasi osis dengan anak pramuka.

Harapan gue, yaaa semoga masalah yang ada diantara mereka cepat terselesaikan.
Harapan gue satu lagi, yaaa semoga rasa yang ada diantara kita cepat diutarakan.

Oke.

Ini ngapa jadi bahas salam salaman sih. ASTAGFIRULLAH.

***

Berbicara tentang keromantisan, saat gue masih berhubungan dengan dia, gue nggak pernah dipanggil dengan panggilan mesra serta manja.
Jangankan dipanggil dengan panggilan mesra, dipanggil nama aja gue udah seneng. Karena gue sendiri nggak begitu excited dengan cowok yang romantis. Bahkan kalo jalan, gue dan dia nggak pernah berpegangan tangan. Soalnya gue lebih milih berpegangan kepada teguh dan keyakinan. Asooy.

Ketika itu gue sangat nyaman dengan hubungan yang seperti itu. Gue sama sekali nggak iri dengan teman gue yang selalu pamer foto pacarnya yang lagi megang kertas dengan tulisan nama mereka berdua.
Gitu doang elaah. Gue mah nanti pamernya, waktu nama gue dan dia berdua tertulis di buku nikah. Uhuk. 


Ngomongin keromantisan, ternyata Ibu gue ‘sepertinya’ sedang berusaha untuk menjadi orang yang romantis. Gue baru menyadari hal itu sejak dua hari yang lalu, saat gue baru pulang kerja dengan tampang lesu tak berdaya, gue duduk melahap pecel yang terlihat nganggur di atas meja.
Ibu berjalan mendekati pintu kamar mandi dengan memegang setangkai bunga yang-entah-darimana ia dapatkan.

Sebagai anak yang cerdas serta aktif bertanya, ya tentu saja gue nyengir dan melahap pecel yang ada di hadapan gue.

Ibu menyembunyikan setangkai bunga mawar putih plastik di punggungnya. Begitu pintu kamar mandi terbuka, Ayah keluar dengan tampang bengong sambil melihat Ibu yang senyum-senyum nggak jelas.
Dengan mengambil nada do tinggi, Ibu berteriak TARAAAAAA
Yang kemudian dilanjutkan dengan memberi setangkai bunga mawar putih di hadapan Ayah.

Kalian tau respon apa yang Ayah ucapkan?
Hanya dua kata.


Ayah menghela nafas sambil berkata, YA ALLAH..


Tanpa dikomando, suara tawa Ayah dan Ibu pecah secara bersamaan. Gue juga ikut menahan tawa setelah mencoba menelan pecel suapan terakhir.

Di tengah-tengah suara tawa, dengan entengnya Ibu berkata, ‘’ Kan biar romantis kayak di FTV itu loh. ‘’


Gaes.

Ternyata, selain pecinta tayangan Katakan Putus, Ibu gue juga pecinta serial FTV.



***

Kembali ke tentang romantis, kalo boleh gue bertanya, perempuan mana sih yang nggak mau diperlakukan dengan romantis?

Gue juga mau keleus.

Tapi gue nggak menaruh keromantisan sebagai hal yang harus diprioritaskan. Bagi gue, keromantisan hanya nilai tambah yang akan kita terima dari diri pasangan.


Ini gue ngapa sok wibawa, adil dan bijaksana gini sih, elaaahh.
Udah dulu ya. Aku dipanggil mama nich beli garem.
Dadaaah
Share
Tweet
Pin
Share
90 comments
Newer Posts
Older Posts

Rahayu Wulandari

Rahayu Wulandari
Atlet renang terhebat saat menuju ovum dan berhasil mengalahkan milyaran peserta lainnya. Perempuan yang doyan nulis curhat.

Teman-teman

Yang Paling Sering Dibaca

  • ADAM
  • Ciri-ciri cowok yang beneran serius
  • Pelecehan
  • 5 Tipe Cowok Cuek

Arsip Blog

  • ▼  2020 (5)
    • ▼  September (1)
      • Perjalanan Baru
    • ►  June (1)
    • ►  April (3)
  • ►  2019 (5)
    • ►  October (1)
    • ►  July (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  February (2)
  • ►  2017 (14)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2016 (39)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (5)
    • ►  June (4)
    • ►  May (2)
    • ►  April (5)
    • ►  March (5)
    • ►  February (8)
    • ►  January (7)
  • ►  2015 (138)
    • ►  December (6)
    • ►  November (4)
    • ►  October (8)
    • ►  September (12)
    • ►  August (12)
    • ►  July (6)
    • ►  June (9)
    • ►  May (10)
    • ►  April (15)
    • ►  March (21)
    • ►  February (11)
    • ►  January (24)
  • ►  2014 (18)
    • ►  December (10)
    • ►  November (6)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+

Total Pageviews

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates