Gue anak yang tidak berbakat dalam bidang seni. Hal apapun itu. Menari, menyanyi, menata sesuatu, mewarnai, melukis, mendesain, berakting. Gue bisa jadi orang bego saat dihadapkan dengan sesuatu yang berbau seni. Gue gapaham segala sesuatu tentang seni. Bagi gue, seni itu rumit. Kayak melukis.
Melukis membutuhkan kesabaran, kehati-hatian, ketelitian, sementara gue?
Nunggu antrian di alfamart aja udah males. Iya, gue memang ga sabaran anaknya. Kecuali nunggu kamu putus sama si dia. Kalo itu mah gue pasti sabar. Ehe.
Gue gatau ini memang bakat turunan apa gimana. Kalo ini bakat turunan, lantas apakah ini bakat turunan dari Ayah?
Mengingat dulu Ibu semasa kuliah mengambil jurusan Sendratasik (seni, drama, tari dan musik) dan juga Ibu pinter menyanyi dan bermain gitar, ya pasti dong ini sebabnya karena Ayah. Etapi Ayah bisa nyanyi, bisa main gitar juga, Ayah orangnya telaten. Lah Kalo begitu, gue turunan siapa dong?
Gatau ah. Kzl.
Semua ini bermula saat gue duduk di kelas 2 SD. Beberapa orang dipilih untuk mengikuti acara seni perpisahan anak kelas 6 SD. Berhubung pelatihnya adalah teman dekat Ayah, maka, seorang Wulan yang tidak memiliki bakat seni itu diletakkan di barisan paling depan dan di tengah.
Bhangkay. Ini benar-benar menjatuhkan harga diri negara nih.
Selama mengikuti latihan menari, gue cukup bahagia. Yaiyala, bentar-bentar gue dipanggil untuk latihan nari, alhasil gue jarang masuk kelas alias jarang mengikuti pelajaran. Asiik.
Parah ya, anak kelas 2 esde udah berpikiran seperti itu. Ckckck
Nah, sewaktu latihan menari di aula sekolah, gue cukup kebingungan mengikuti gerakannya. Gue pusing. Yang geser kanan, geser kiri, muter, pinggulnya digoyang, minta nambah saweran, ya pokoknya pusing dah.
Ada suatu gerakan kaki yang membuat gue ngerasa, 'kok gue dulu sebodoh itu ya' hingga sampai saat ini.
Ada gerakan di mana semua anak melangkah ke samping kanan sebanyak 2 langkah, lalu kaki kiri disilangkan ke depan.
Sebaliknya, saat kaki dilangkahkan ke samping kiri sebanyak 2 langkah, lalu kaki kanan disilangkan ke depan.
Kurang lebih kaya gambar ini.
Namun, gue yang kebingungan malah mengambil gerakan yang salah. Yang gue lakukan adalah, melangkah ke kanan 2 langkah, kaki kanan dibuka lebar. Melangkah ke kiri 2 langkah, kaki kiri di buka lebar.
Kaya gambar di bawah ini.
Bapak pelatih yang melihat gelagat aneh dari seorang anak perempuan yang berada di barisan depan, akhirnya membawa anak itu untuk keluar dari barisan.
Lagu dinyalakan, dan di sanalah gue diajari gerakan langkah kaki oleh pak pelatih. Dan di sanalah seluruh anak peserta nari menonton gue yang gabisa bisa paham dengan gerakan langkah kaki yang diajarkan.
Cuma salah kaki doang yailah.
Gue dodol amat.
Yawlaaa rasanya gue ingin kembali ke masa itu, masa di mana gue duduk di kelas 2 esde dan memilih untuk tidak ikut tampil menari di acara pentas seni:(
Dan di malam itu, gue tampil bersama teman-teman membawakan sebuah tarian. Gue dengan menggunakan baju tanpa lengan, bandana warna warni, rok di atas lutut, berambut pendek dan tentunya gue menari dengan gerakan kaku.
Maka, mulai hari itu, gue menganggap bahwa kegiatan menari atau tampil di atas panggung itu adalah hal yang memalukan bagi gue.
Di acara perpisahan kelas 6 esde, anak-anak tampil satu kelas dengan mengenakan kebaya dari sukunya masing-masing. Pagi itu, gue mengenakan baju adat Jawa Timur beserta rok kain juga sepatu hak kain khas Jatim. Di saat anak-anak lain udah berbaris mengatur barisan, gue yang baru turun dari motor terburu-buru dan berjalan menuju lokasi acara. Dengan muka cemberut, kesel karena ribet pake rok-rok segala, gue mempercepat langkah kaki gue. Beberapa menit sebelum anak kelas tampil di atas panggung, eehh sepatu gue berulah.
Hak sepatu gue lepas.
Ini gimana gue naik ke atas panggung kalo begini ini mah. Yakali kaki gue jadi tinggi sebelah. Gue langsung panik, nyari Ibu dan voilaaa berkat bantuan Ibu yang entah darimana dapat lem sepatu, akhirnya gue bisa tampil di panggung dengan selamat.
Tapi tetep. Gue merasa risih dengan baju kebaya yang super panas dan berat yang gue kenakan ketika itu.
* * *
Naik ke kelas 1 SMP.
Satu-satunya penampilan bersama teman-teman yang gue ikuti karena memang menjadi suatu keharusan dan ditonton oleh orang banyak adalah penampilan yel-yel saat MOS. Mau nolak, lah gue takut sama kakak pembina MOS.
Mau gamau gue terpaksa ikut.
Gue masih ingat, di kelas 1 SMP, sekolah gue mengadakan acara kesenian. Satu kelas harus menampilkan satu acara kesenian. Bisa tarian, nyanyian atau drama. Seingat gue, anak-anak sekelas ketika itu memutuskan untuk menggunakan lagu dari Rini Idol yang berjudul Aku Bukan Boneka dengan beberapa lirik yang mereka ganti.
Yang liriknya lagu aslinya gini,
Nananana... a a aa
Nananana... ahha.
Kau pikir, aku akan tergoda
Yawlaa gue dengernya lagunya aja udah pengen nangis.
Seminggu lamanya anak-anak kelas latihan menari dan menyanyi. Mulai dari mengatur barisan, memecah suara, mempersiapkan aksesoris berupa hiasan kepala, hiasan tangan untuk para siswi, sampai akhirnya segala persiapan selesai.
Tidak sampai 1 jam lagi, giliran anak kelas gue akan dipanggil untuk tampil ke panggung. Anak-anak lainnya mulai sibuk mempersiapkan diri, sementara gue?
Lari ke kantin.
Bodo amat sama nari-nari, nyanyi-nyanyi lalalala-yeyeye. Males ikut gituan.
Begitulah gue di setiap acara seni yang diadakan saat gue duduk di kelas 2 dan 3 SMP. Bagi gue, tempat pertunjukan seni yang paling baik adalah kantin. Udah.
* * *
Lulus SMP, gue masuk di salah satu SMK Swasta. Kalo di sekolahan lain acara seni diadakan setahun sekali alias pas acara kelulusan angkatan tertua, di SMK gue berbeda. Acara seni diadakan pada setiap penerimaan rapor para murid.
Jadi, sekolah SMK gue itu terdiri dari playgroup-TK-SD-SMP-SMK-SMA di satu gedung. Setiap penerimaan rapor, seluruh anak pada tiap kelas harus menampilkan satu tampilan seni.
Ya lu bayangin aja, nunggu dari bocah-bocah TK tampil di panggung, kemudian dilanjut dengan anak SD yang dimulai dari kelas 1 sampai kelas 6, yang dimulai dari kelas 1A, 1B, 1C, lalu 2A, 2B dan seterusnya. Begitu juga anak SMP, kemudian anak SMK.
Pulang-pulang pantat panas karena kebanyakan duduk. Ditambah telinga jadi budek karena duduknya dideket soundsystem.Yailaah
Di kelas 1 SMK, anak-anak kelas tampil dengan membawakan salah satu lagu nasional. Lagu Pemuda-Pemudi. Berhubung wali kelas gue ketika itu seorang cowo, maka tidak ada penampilan joget-joget, haha-hihi ataupun penampilan riang lainnya. Yang ada hanya penampilan penuh keseriusan yang diiringi lagu nasional.
Seperti biasa, gue mengikuti latihan dari hari pertama sampai hari terakhir. Anak-anak dan wali kelas sudah berdiskusi membicarakan pakaian apa yang nanti akan dikenakan agar terlihat kompak. Gue mau jawab, pake baju pemilu aja, tapi takut digampar. Akhirnya gue lebih memilih diam.
Tak perlu memakan waktu lama, akhirnya keputusan mengenai pakaian yang akan dikenakan untuk tampil pun didapat. Seluruh anak diharuskan mengenakan atasan berwarna merah, bawahan jeans biru dan sepatu putih.
Keesokan harinya, di saat penerimaan rapor murid yang mengundang para orangtua murid, maka di sanalah gue.
Di rumah.
Berleha-leha di depan tv nonton marsha and the bear sambil menyeduh teh hangat. Bodo amat sama penampilan seni di atas panggung. Wkakaka
Naik ke kelas 2 SMK. Gue memiliki wali kelas seorang perempuan. Galak parah anjir. Dan ketika acara seni diadakan 2 minggu lagi, anak-anak sekelas memutuskan untuk tampil dengan sedikit drama, sedikit nyanyi bersama dan berdansa. IYA BERDANSA. BANGKE.
Gue senam tiap hari kamis di sekolahan aja b
esoknya encok menahun. Apalagi dansa.
Lagu yang dipake lagu One Direction yang judulnya One Thing. Merusak citra 1D aja. Najis emang anak kelas gue.
Ini kalo abang zayn tercinta tau lagunya dipake untuk nari-nari plus drama gaje kayak gini, dia pasti depresi deh.
Lalu, yang gue bingungkan ketika itu adalah...
Ini gimana caranya gue bisa berleha-leha depan tv sambil nonton marsha and the bear lagi cobaaaa??
Yawlaaa ini cobaan hidup terberat. Mau gamau gue harus ikut penampilan seni kali ini. Rusak sudah kesucianku. Aaaaakk tidakkk:(
Maka, di hari penerimaan rapor ketika itu, gue tampil di atas panggung. Dengan format tampilan, 6 pasang cewe-cowo di depan, sementara anak-anak lain membentuk 2 barisan di belakang.
Yang 6 pasang ditugaskan untuk berdansa, yang 2 barisan di belakang ditugaskan untuk melihat adegan berdansa mesra sambil menahan iri. See? kekejaman sudah dimulai.
Dan entah atas dasar apa, gue dipilih menjadi salah satu cewe yang tampil dalam 6 pasangan untuk berdansa. Yawlaaa. Hidup dan mati gue ada di atas panggung ini.
Bersyukur sekali, gue dipasangkan dengan Jefri. Salah seorang teman sebangku gue semasa kelas 1 SMK dulu.
Oke. Acara dimulai.
Jantung gue udah ga karuan. Bukan karena nervous, tapi karena gue gabisa menemukan jawaban KENAPA HARUS GUE YANG BERDANSA ANJIIRR.
Seluruh penonton bertepuk tangan. Seluruh anak naik ke atas panggung. Alunan lagu One Direction mulai diputar dan mengiringi segala langkah dan gerak badan semua anak. Tibalah saat di mana, 6 cowo mengeluarkan setangkai bunga, berlutut dan memberikan setangkai bunga itu ke para pasangan dansanya.
Gue dengan menahan malu menerima bunga dari tangan Jefri sambil berbisik ke telinga Jefri, '' Tay kucing. ''
Jefri menahan tawa dan meneruskan gerakannya.
Tidak hanya ada adegan memberi setangkai bunga, adegan puncak yang hina bagi gue adalah BERDANSA.
Jefri memegang pinggang bagian belakang gue. Sementara tangan gue menempel di atas pundak Jefri. Tangan kami yang lainnya menyatu di depan.
Dan.
6 pasang anak-anak.
Berdansa dengan bahagianya.
Tamat.
Ya kagaklah. Kejadian memalukan tidak hanya selesai sampai pada adegan berdansa. Selama berdansa, gue hanya menunduk menahan malu sekaligus menahan murka.
Selesai tampil, gue langsung buru-buru pulang ke rumah. Melepaskan diri dari kehinaan yang teramat dalam.
Di kelas 3 SMK, tentunya acara kesenian kembali hadir di sekolahan gue. Gue berhasil tidak mengikuti acara kesenian di saat pengambilan rapor semester. Namun, gue cukup shock saat menyadari bahwa gue diharuskan untuk mengikuti acara kesenian untuk perpisahan angkatan tua. Angkatan gueeee yawla.
Seperti biasa, gue menerapkan taktik, latihan-latihan berdahulu, kabur dan berleha-leha di rumah kemudian.
Sementara temen-temen sibuk nyari lagu apa yang pas untuk digunakan dalam acara kesenian perpisahan, gue memilih untuk tidak banyak omong. Toh ntar pas hari H gue gabakalan hadir. Hahahaha
Dan benar sekali wahai pemirsa yang budiman. Beberapa hari sebelum hari H, gue dan keluarga pergi ke Padang menghadiri acara pernikahan sepupu gue. Alhamdulillah. Nyawa gue terselamatkan.
* * *
Entahlah. Entah kenapa darah kesenian tidak mengalir di dalam tubuhku.
Gue masih inget ketika itu ada temen gue, seorang cowo, datang ke rumah. Karena besok hari valentine, dia meminta tolong kepada gue untuk membungkuskan kado yang akan ia beri ke pacarnya. Sebagai perempuan sejati pada umumnya,
Gue menolak permintaannya.
Yaiyala kambing.
Gue yang niatnya mau nyampul buku aja malah jadi nge-isolasi buku. Rapi enggak, malah acak adul.
Lah ini, minta ngebungkusin kado. Pergi ke rumah makan padang coba, ngomong ke mba-mbanya, ' mba, jangan keseringan ngebungkusin nasi, sekali-sekali ngebungkus kado dong, '
Di jamin.
Lu bakal digampar mba-mbanya pake centong nasi.
Gue bener-bener gabisa mengerjakan sesuatu yang harus menuntut kehati-hatian, ketelitian dan kerapian pada suatu benda. Gue anaknya ga sabaran, pecicilan. Huhuu
Maka dari itu, gue selalu salut dengan cowo yang bisa membungkus kado dengan rapi. Gue bisa heran kalo ngeliat ada cowo yang ngebungkus kado di depan gue. Apalagi kalo kadonya buat gue. Apalagi kalo isi kadonya kunci mobil kayak Rachel Vennya. Yawlaaa enak banget ngayal.
Maka dari itu, kriteria lelaki idaman gue sepertinya kan bertambah satu. Yaitu:
Bisa membungkus kado dengan rapi.
Ok. Tq.
Melukis membutuhkan kesabaran, kehati-hatian, ketelitian, sementara gue?
Nunggu antrian di alfamart aja udah males. Iya, gue memang ga sabaran anaknya. Kecuali nunggu kamu putus sama si dia. Kalo itu mah gue pasti sabar. Ehe.
Gue gatau ini memang bakat turunan apa gimana. Kalo ini bakat turunan, lantas apakah ini bakat turunan dari Ayah?
Mengingat dulu Ibu semasa kuliah mengambil jurusan Sendratasik (seni, drama, tari dan musik) dan juga Ibu pinter menyanyi dan bermain gitar, ya pasti dong ini sebabnya karena Ayah. Etapi Ayah bisa nyanyi, bisa main gitar juga, Ayah orangnya telaten. Lah Kalo begitu, gue turunan siapa dong?
Gatau ah. Kzl.
Semua ini bermula saat gue duduk di kelas 2 SD. Beberapa orang dipilih untuk mengikuti acara seni perpisahan anak kelas 6 SD. Berhubung pelatihnya adalah teman dekat Ayah, maka, seorang Wulan yang tidak memiliki bakat seni itu diletakkan di barisan paling depan dan di tengah.
Bhangkay. Ini benar-benar menjatuhkan harga diri negara nih.
Selama mengikuti latihan menari, gue cukup bahagia. Yaiyala, bentar-bentar gue dipanggil untuk latihan nari, alhasil gue jarang masuk kelas alias jarang mengikuti pelajaran. Asiik.
Parah ya, anak kelas 2 esde udah berpikiran seperti itu. Ckckck
Nah, sewaktu latihan menari di aula sekolah, gue cukup kebingungan mengikuti gerakannya. Gue pusing. Yang geser kanan, geser kiri, muter, pinggulnya digoyang, minta nambah saweran, ya pokoknya pusing dah.
Ada suatu gerakan kaki yang membuat gue ngerasa, 'kok gue dulu sebodoh itu ya' hingga sampai saat ini.
Ada gerakan di mana semua anak melangkah ke samping kanan sebanyak 2 langkah, lalu kaki kiri disilangkan ke depan.
Sebaliknya, saat kaki dilangkahkan ke samping kiri sebanyak 2 langkah, lalu kaki kanan disilangkan ke depan.
Kurang lebih kaya gambar ini.
Namun, gue yang kebingungan malah mengambil gerakan yang salah. Yang gue lakukan adalah, melangkah ke kanan 2 langkah, kaki kanan dibuka lebar. Melangkah ke kiri 2 langkah, kaki kiri di buka lebar.
Kaya gambar di bawah ini.
Bapak pelatih yang melihat gelagat aneh dari seorang anak perempuan yang berada di barisan depan, akhirnya membawa anak itu untuk keluar dari barisan.
Lagu dinyalakan, dan di sanalah gue diajari gerakan langkah kaki oleh pak pelatih. Dan di sanalah seluruh anak peserta nari menonton gue yang gabisa bisa paham dengan gerakan langkah kaki yang diajarkan.
Cuma salah kaki doang yailah.
Gue dodol amat.
Yawlaaa rasanya gue ingin kembali ke masa itu, masa di mana gue duduk di kelas 2 esde dan memilih untuk tidak ikut tampil menari di acara pentas seni:(
Dan di malam itu, gue tampil bersama teman-teman membawakan sebuah tarian. Gue dengan menggunakan baju tanpa lengan, bandana warna warni, rok di atas lutut, berambut pendek dan tentunya gue menari dengan gerakan kaku.
Maka, mulai hari itu, gue menganggap bahwa kegiatan menari atau tampil di atas panggung itu adalah hal yang memalukan bagi gue.
Di acara perpisahan kelas 6 esde, anak-anak tampil satu kelas dengan mengenakan kebaya dari sukunya masing-masing. Pagi itu, gue mengenakan baju adat Jawa Timur beserta rok kain juga sepatu hak kain khas Jatim. Di saat anak-anak lain udah berbaris mengatur barisan, gue yang baru turun dari motor terburu-buru dan berjalan menuju lokasi acara. Dengan muka cemberut, kesel karena ribet pake rok-rok segala, gue mempercepat langkah kaki gue. Beberapa menit sebelum anak kelas tampil di atas panggung, eehh sepatu gue berulah.
Hak sepatu gue lepas.
Ini gimana gue naik ke atas panggung kalo begini ini mah. Yakali kaki gue jadi tinggi sebelah. Gue langsung panik, nyari Ibu dan voilaaa berkat bantuan Ibu yang entah darimana dapat lem sepatu, akhirnya gue bisa tampil di panggung dengan selamat.
Tapi tetep. Gue merasa risih dengan baju kebaya yang super panas dan berat yang gue kenakan ketika itu.
* * *
Naik ke kelas 1 SMP.
Satu-satunya penampilan bersama teman-teman yang gue ikuti karena memang menjadi suatu keharusan dan ditonton oleh orang banyak adalah penampilan yel-yel saat MOS. Mau nolak, lah gue takut sama kakak pembina MOS.
Mau gamau gue terpaksa ikut.
Gue masih ingat, di kelas 1 SMP, sekolah gue mengadakan acara kesenian. Satu kelas harus menampilkan satu acara kesenian. Bisa tarian, nyanyian atau drama. Seingat gue, anak-anak sekelas ketika itu memutuskan untuk menggunakan lagu dari Rini Idol yang berjudul Aku Bukan Boneka dengan beberapa lirik yang mereka ganti.
Yang liriknya lagu aslinya gini,
Nananana... a a aa
Nananana... ahha.
Kau pikir, aku akan tergoda
Yawlaa gue dengernya lagunya aja udah pengen nangis.
Seminggu lamanya anak-anak kelas latihan menari dan menyanyi. Mulai dari mengatur barisan, memecah suara, mempersiapkan aksesoris berupa hiasan kepala, hiasan tangan untuk para siswi, sampai akhirnya segala persiapan selesai.
Tidak sampai 1 jam lagi, giliran anak kelas gue akan dipanggil untuk tampil ke panggung. Anak-anak lainnya mulai sibuk mempersiapkan diri, sementara gue?
Lari ke kantin.
Bodo amat sama nari-nari, nyanyi-nyanyi lalalala-yeyeye. Males ikut gituan.
Begitulah gue di setiap acara seni yang diadakan saat gue duduk di kelas 2 dan 3 SMP. Bagi gue, tempat pertunjukan seni yang paling baik adalah kantin. Udah.
* * *
Lulus SMP, gue masuk di salah satu SMK Swasta. Kalo di sekolahan lain acara seni diadakan setahun sekali alias pas acara kelulusan angkatan tertua, di SMK gue berbeda. Acara seni diadakan pada setiap penerimaan rapor para murid.
Jadi, sekolah SMK gue itu terdiri dari playgroup-TK-SD-SMP-SMK-SMA di satu gedung. Setiap penerimaan rapor, seluruh anak pada tiap kelas harus menampilkan satu tampilan seni.
Ya lu bayangin aja, nunggu dari bocah-bocah TK tampil di panggung, kemudian dilanjut dengan anak SD yang dimulai dari kelas 1 sampai kelas 6, yang dimulai dari kelas 1A, 1B, 1C, lalu 2A, 2B dan seterusnya. Begitu juga anak SMP, kemudian anak SMK.
Pulang-pulang pantat panas karena kebanyakan duduk. Ditambah telinga jadi budek karena duduknya dideket soundsystem.Yailaah
Di kelas 1 SMK, anak-anak kelas tampil dengan membawakan salah satu lagu nasional. Lagu Pemuda-Pemudi. Berhubung wali kelas gue ketika itu seorang cowo, maka tidak ada penampilan joget-joget, haha-hihi ataupun penampilan riang lainnya. Yang ada hanya penampilan penuh keseriusan yang diiringi lagu nasional.
Seperti biasa, gue mengikuti latihan dari hari pertama sampai hari terakhir. Anak-anak dan wali kelas sudah berdiskusi membicarakan pakaian apa yang nanti akan dikenakan agar terlihat kompak. Gue mau jawab, pake baju pemilu aja, tapi takut digampar. Akhirnya gue lebih memilih diam.
Tak perlu memakan waktu lama, akhirnya keputusan mengenai pakaian yang akan dikenakan untuk tampil pun didapat. Seluruh anak diharuskan mengenakan atasan berwarna merah, bawahan jeans biru dan sepatu putih.
Keesokan harinya, di saat penerimaan rapor murid yang mengundang para orangtua murid, maka di sanalah gue.
Di rumah.
Berleha-leha di depan tv nonton marsha and the bear sambil menyeduh teh hangat. Bodo amat sama penampilan seni di atas panggung. Wkakaka
Naik ke kelas 2 SMK. Gue memiliki wali kelas seorang perempuan. Galak parah anjir. Dan ketika acara seni diadakan 2 minggu lagi, anak-anak sekelas memutuskan untuk tampil dengan sedikit drama, sedikit nyanyi bersama dan berdansa. IYA BERDANSA. BANGKE.
Gue senam tiap hari kamis di sekolahan aja b
Lagu yang dipake lagu One Direction yang judulnya One Thing. Merusak citra 1D aja. Najis emang anak kelas gue.
Ini kalo abang zayn tercinta tau lagunya dipake untuk nari-nari plus drama gaje kayak gini, dia pasti depresi deh.
Lalu, yang gue bingungkan ketika itu adalah...
Ini gimana caranya gue bisa berleha-leha depan tv sambil nonton marsha and the bear lagi cobaaaa??
Yawlaaa ini cobaan hidup terberat. Mau gamau gue harus ikut penampilan seni kali ini. Rusak sudah kesucianku. Aaaaakk tidakkk:(
Maka, di hari penerimaan rapor ketika itu, gue tampil di atas panggung. Dengan format tampilan, 6 pasang cewe-cowo di depan, sementara anak-anak lain membentuk 2 barisan di belakang.
Yang 6 pasang ditugaskan untuk berdansa, yang 2 barisan di belakang ditugaskan untuk melihat adegan berdansa mesra sambil menahan iri. See? kekejaman sudah dimulai.
Dan entah atas dasar apa, gue dipilih menjadi salah satu cewe yang tampil dalam 6 pasangan untuk berdansa. Yawlaaa. Hidup dan mati gue ada di atas panggung ini.
Bersyukur sekali, gue dipasangkan dengan Jefri. Salah seorang teman sebangku gue semasa kelas 1 SMK dulu.
Oke. Acara dimulai.
Jantung gue udah ga karuan. Bukan karena nervous, tapi karena gue gabisa menemukan jawaban KENAPA HARUS GUE YANG BERDANSA ANJIIRR.
Seluruh penonton bertepuk tangan. Seluruh anak naik ke atas panggung. Alunan lagu One Direction mulai diputar dan mengiringi segala langkah dan gerak badan semua anak. Tibalah saat di mana, 6 cowo mengeluarkan setangkai bunga, berlutut dan memberikan setangkai bunga itu ke para pasangan dansanya.
Gue dengan menahan malu menerima bunga dari tangan Jefri sambil berbisik ke telinga Jefri, '' Tay kucing. ''
Jefri menahan tawa dan meneruskan gerakannya.
Tidak hanya ada adegan memberi setangkai bunga, adegan puncak yang hina bagi gue adalah BERDANSA.
Jefri memegang pinggang bagian belakang gue. Sementara tangan gue menempel di atas pundak Jefri. Tangan kami yang lainnya menyatu di depan.
Dan.
6 pasang anak-anak.
Berdansa dengan bahagianya.
Tamat.
Ya kagaklah. Kejadian memalukan tidak hanya selesai sampai pada adegan berdansa. Selama berdansa, gue hanya menunduk menahan malu sekaligus menahan murka.
Selesai tampil, gue langsung buru-buru pulang ke rumah. Melepaskan diri dari kehinaan yang teramat dalam.
Di kelas 3 SMK, tentunya acara kesenian kembali hadir di sekolahan gue. Gue berhasil tidak mengikuti acara kesenian di saat pengambilan rapor semester. Namun, gue cukup shock saat menyadari bahwa gue diharuskan untuk mengikuti acara kesenian untuk perpisahan angkatan tua. Angkatan gueeee yawla.
Seperti biasa, gue menerapkan taktik, latihan-latihan berdahulu, kabur dan berleha-leha di rumah kemudian.
Sementara temen-temen sibuk nyari lagu apa yang pas untuk digunakan dalam acara kesenian perpisahan, gue memilih untuk tidak banyak omong. Toh ntar pas hari H gue gabakalan hadir. Hahahaha
Dan benar sekali wahai pemirsa yang budiman. Beberapa hari sebelum hari H, gue dan keluarga pergi ke Padang menghadiri acara pernikahan sepupu gue. Alhamdulillah. Nyawa gue terselamatkan.
* * *
Entahlah. Entah kenapa darah kesenian tidak mengalir di dalam tubuhku.
Gue masih inget ketika itu ada temen gue, seorang cowo, datang ke rumah. Karena besok hari valentine, dia meminta tolong kepada gue untuk membungkuskan kado yang akan ia beri ke pacarnya. Sebagai perempuan sejati pada umumnya,
Gue menolak permintaannya.
Yaiyala kambing.
Gue yang niatnya mau nyampul buku aja malah jadi nge-isolasi buku. Rapi enggak, malah acak adul.
Lah ini, minta ngebungkusin kado. Pergi ke rumah makan padang coba, ngomong ke mba-mbanya, ' mba, jangan keseringan ngebungkusin nasi, sekali-sekali ngebungkus kado dong, '
Di jamin.
Lu bakal digampar mba-mbanya pake centong nasi.
Gue bener-bener gabisa mengerjakan sesuatu yang harus menuntut kehati-hatian, ketelitian dan kerapian pada suatu benda. Gue anaknya ga sabaran, pecicilan. Huhuu
Maka dari itu, gue selalu salut dengan cowo yang bisa membungkus kado dengan rapi. Gue bisa heran kalo ngeliat ada cowo yang ngebungkus kado di depan gue. Apalagi kalo kadonya buat gue. Apalagi kalo isi kadonya kunci mobil kayak Rachel Vennya. Yawlaaa enak banget ngayal.
Maka dari itu, kriteria lelaki idaman gue sepertinya kan bertambah satu. Yaitu:
Bisa membungkus kado dengan rapi.
Ok. Tq.